Reinkarnasi

[ Tiba-tiba dapet seruan dari alam bawah sadar buat menyampaikan ide super aneh ke seorang teman -> (michirutsubasa.wordpress.com). “Eh kita lomba bikin cerita dalam waktu 30 menit yok. Prompt lo gue yang kasih, trus lo kasih gue prompt juga. Terserah apaan aja.” Kemudian dia memberi saya prompt “Reinkarnasi”. Alhasil inilah apa yang berhasil saya ketik dalam waktu 30 menit lebih sedikit, dengan sedikit editan di beberapa bagian.]

Tidak, bahkan sebagian orang menolak untuk mengakui bahwa hal itu ada. Ya, bahkan ia pun tadinya membentengi keyakinannya dari pengaruh pemikiran tersebut.
Perlahan-lahan daun itu menguning, dapat kau bayangkan wajah perempuan itu ketika melihat keindahan musim gugur. Sore itu seraya ia letakkan serangkai bunga di hadapan batu nisan, angin menghembuskan bagian pertama dari pelajarannya hari itu. “Lihat sudah seberapa jauh kau jalani kehidupanmu,” teringatnya kata-kata kakak laki-laki yang dulu suka sekali mengacak-acak rambut merahnya. Kakaknya itu seperti seorang nelayan, suka sok tahu tentang bintang-gemintang. Pikirnya ia telah menguasai ilmu tentang kehidupan dan kematian. Pikirnya ia sudah memahami jawaban dari segala misteri. Ada-ada saja.
Namun hari itu adalah hari ulang tahun kakaknya yang ke-25, dan mungkin hari itu akan menjadi hari terakhirnya sebagai jiwa yang menunggu. “Tunggu sampai aku berusia 25, dan kau akan menyadari bahwa jiwa dapat dikirim kembali ke dunia untuk menghuni kehidupan yang baru,” ucapnya sebelum hembusan napas terakhirnya.
Yep, perempuan itu berkata ia mempercayainya. Namun tidak, sama sekali tidak.
Terlepas dari semburat cahaya jingga yang membanjiri makam kakaknya, dan gemeresak dedaunan tertiup angin sore, tidak ada yang terlihat tidak biasa. Omong kosong sepertinya apa yang diyakini oleh kakaknya sebagai konsep reinkarnasi. Perempuan itu mendengus sembari tersenyum dan menggelengkan kepala dengan lembut. “Kau selalu mengingatkanku kepada nelayan yang telah mengarungi tujuh samudera. Kau seperti berseru dalam diam bahwa kau tahu segalanya,” bisiknya sebelum membalikkan badan.
Sepi sekali sore itu, seperti sore-sore sebelumnya memang. Namun kakinya tetap mantap melangkah pulang.
Tanpa tahu seperti apa rasanya meninggalkan dunia ini, ia pun terlelap dengan foto kakaknya terdekap di dalam pelukannya.
“Aku lemah seperti air, namun kokoh seperti batu karang. Kau selalu melirikku sepanjang pencarian jati dirimu. Kau tahu aku pernah menghembuskan napas terakhir. Kau tahu aku pernah tidak ada. Namun lihat keluar jendela dan bersahabatlah dengan musim gugur yang menghampiri kota ini, dan aku akan ada di sana di tempatmu biasa mengucilkan diri, sebagai ombak yang pecah, sebagai burung yang menjerit di atas kapal, sebagai angin yang membawa peringatan badai. Aku dilahirkan kembali, adikku. Aku telah menemukanmu lagi, di dunia ini, dengan niat untuk meneruskan hidup dari jalur yang berbeda. Aku merindukanmu, kamu yang dilahirkan di kota ini, dengan aku yang memberimu nama.”
Perempuan itu terbangun dan menemukan dirinya tidur di ranjang yang berbeda. Ia berada di kamar yang berbeda, rumah yang berbeda. Perlahan ia bangun dan membuka pintu kamarnya.
“Pancake, tukang tidur,” kakaknya berdiri di samping meja makan, baru saja menaruh piring dengan dua tumpuk pancake berhiaskan madu di atasnya.
Ia bukan dirinya lagi. Dimana dirinya? Siapa ia?
Suara ombak yang pecah mengalihkan perhatiannya. Ia berada di sebuah rumah di pinggir pantai.
“Tadi malam aku berhasil menangkap banyak sekali tuna, mungkin nanti siang kita akan dapat jatah untuk menikmatinya,” ucap kakaknya yang sekarang memiliki kulit yang terbakar matahari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s