Does this really need a title?

Seringkali aku berpikir untuk berhenti menulis, mengemukakan apapun yang ada di dalam benakku, karena apa gunanya? Sekadar membuat pembaca mengetahui isi pikiranku, mungkin menginspirasinya satu atau dua kali, atau hanya membuatnya menilai bagus atau tidaknya tulisanku. Namun tidak lebih dari itu.

Kalau dilihat dari gambaran kecil, rasanya apa yang kupikirkan dan yang ingin kutuangkan ke dalam tulisan terasa sama sekali tidak ada gunanya. Buat apa? Tidak ada sepatah kata pun yang kuungkapkan, yang sekeras apapun kucoba kubungkus dengan bingkai yang indah, dapat memunculkan perubahan, besar atau kecil. Aku bukan siapa-siapa, tidak memiliki pengaruh apa-apa. Aku tidak memiliki opini unik nan mutakhir yang dapat membuat orang mempertanyakan kembali kebenaran yang selama ini dipercayanya. Kreatifitasku tidak setinggi J.R.R. Tolkien atau seluas H.P. Lovecraft. Pengetahuanku tentang dunia ini tidak sekaya orang kebanyakan karena sebagian besar waktuku kuhabiskan di dalam kamar, menertawakan diriku sendiri. Untuk memadatkan semua hasil renunganku ke dalam sebuah batasan yang bernama tulisan membutuhkan usaha yang melelahkan. Oke, di satu sisi aku dapat membantah diriku sendiri dengan berkata bahwa menulis sama dengan berolahraga, dengan kemampuan menerjamahkan pikiran ke dalam tulisan yang sama dengan kemampuan otot menggerakkan kaki atau mengangkat barbel. Makin sering dilatih, makin lancar dan mudahlah prosesnya. Tapi ini tidak menggoyahkan pesimismeku. Aku masih tidak dapat menemukan alasan yang cukup kuat untuk beralih dari pemikiran bahwa jika aku menulis, itu tidak ada gunanya.

Ya, kadang aku berpikir andai saja aku memiliki kemampuan telepati, karena kata-kata adalah sebuah bentuk duniawi yang, seperti hal-hal duniawi lainnya, mewakilkan suatu batasan. Kalau manusia dapat berkomunikasi tanpa batasan ini, betapa besarnya perbedaan yang muncul, yang dapat dibandingkan dengan situasi di mana kita masih harus belajar menggunakan kata-kata. Dari isi otakku yang semrawut ke dalam satu halaman yang setiap katanya dengan sempurna berbicara kepada pembaca dan setiap kalimatnya tersusun dengan rapi. Oh, kurasa itu tidak akan pernah mungkin. Aku mengenal diriku sendiri yang tidak pernah bisa mengatur apapun, tidak bisa menyusun apapun ke dalam suatu bentuk yang sistematis dan mudah dipahami. Jadi mana mungkin aku dapat dengan sepenuhnya membuat orang mengerti akan maksud dalam tulisanku?

Advertisements